Metode Dakwah Rasulullah SAW

Diposting pada
Metode Dakwah Rasulullah SAW

Metode Dakwah Rasulullah SAW – Dalam dakwahnya, Rasulullah SAW, selalu menerapkan trik-trik supaya dakwah yang dilakukan maksimal. Oleh karena itu, sebelum memulai dakwah, hendaknya kita mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengannya, baik dari segi materi, cara, atau metode dakwah yang hendak dipakai harus sesuai dengan kondisi objeknya.

Pepatah Arab menyatakan “ath-thariqatu ahammu min al-maddah” yang berarti “cara atau metode penyampaian lebih penting dari materi yang disampaikan.” Kata mutiara ini mengajarkan bahwa metode dakwah atau cara dalam menyampaikan sesuatu lebih penting daripada substansi yang disampaikan karena cara penyampaian akan lebih memberikan kesan kepada mad’u atau orang yang mendakwahi. Di dalam dakwah terdapat metode-metode yang pernah diakukan Rasulullah SAW, yang penting untuk diketahui.

Memberi Keteladanan Terlebih Dahulu Sebelum Menyuruh Orang Lain

Imam Ibnu Hajar dalam karyanya berjudul Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah meriwayatkan suatu hadis dari Ibnu Ishaq bahwasanya Rasulullah SAW, pernah mengutus Amr bin ‘Ash kepada al-Julanda Malik ‘Uman Watsimah untuk mengajaknya memeluk Islam, ia lalu berkata, “Sesungguhnya dia (Amr bin ‘Ash) telah menunjukkan aku mengikuti seorang Nabi yang ummiy (tidak dapat baca tulis). Sungguh, beliau (Nabi SAW) tidak pernah menyuruh suatu kebaikan, melainkan beliau sendiri orang yang pertama melakukannya. Dan tidak pula beliau melarang suatu kejahatan, melainkan beliau sendiri orang yang pertama meninggalkannya.”

Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa seorang dai memiliki konsekuensi atas ia dakwahkan. Orang yang ingin mendakwahkan sesuatu hendaknya ia telah melakukannya terlebih dahulu. Sebenarnya, orang yang didakwahi akan lebih melihat sikap seorang dai daripada yan diucapkan dai tersebut. Selain itu, Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an Surah As-Saff: 2-3 menegaskan sebagai berikut.

Artinya: ” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kalian mengatakan suatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.”

Metode Dakwah Rasulullah SAW

Memperlihatkan Kondisi Orang yang Didakwahi

Rasulullah SAW, selalu memberikan pengajaran kepada seseorang sesuai dengan kadar pemahaman dan posisi mereka, serta selalu menghargai perasaan orang yang didakwahi. Rasulullah SAW, tidak mengajarkan kepada orang yang masih awam dengan suatu hal yang diajarkan kepada para sahabat senior. Selain itu, beliau juga pandai menjawab setiap pertanyaan dengan yang dikehendaki dan keadaan orang yang bertanya.

Berkata dengan Perkataan yang Jelas, Ringkas, dan Tidak Terburu-buru

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwasanya ia berkata,

Artinya: ” Tidaklah Rasulullah berbicara dengan tergesa-gesa sebagaimana tergesa-gesanya kalian ini. Akan tetapi, beliau berbicara dengan tutur kata yang jelas, yang dapat dihafal oleh orang yang duduk didepannya.” (H.R. Tirmidzi).

Metode At-Targhib wa At-Tarhib

Rasulullah SAW, dalam dakwahnya seringkali memberikan motivasi (at-targhib) atau dorongan kepada para sahabatnya untuk melakukan suatu amal saleh dengan menyebutkan fadhilah atau keutamaannya, misalnya Nabi SAW, memberi motivasi bagi siapa saja yang memperbagus wudu kemudian melangkah ke masjid untuk salat berjamaah maka setiap kaki kanannya melangkah akan diangkah satu derajat baginya dan setiap kaki kiri melangkah akan diampuni dosanya. Selain itu, Rasulullah SAW, juga memberikan peringatan atau ancaman (at-tarhib) ketika beliau menyebutkan suatu amal kejahatan. Hal tersebut supaya peringatan tersebut diindahkan oleh orang yang mendengarnya, seperti peringatan kepada orang yang mendatangi dukun kemudian mempercayai yang dikatakannya maka orang tersebut tidak akan diterima sholatnya selam empat puluh hari.

Metode Visualisasi

Metode ini pernah dilakukan Rasulullah SAW, dengan menggambar di atas tanah. Di antara hadis yang mengutarakan hal tersebut sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA. Ia berkata, “Nabi SAW, pernah membuat garis persegi empat dan satu garis lagi di tengah-tengahnya sampai keluar batas (persegi empat), lalu beliau membuat garis-garis kecil yang mengarah ke garis tengah dari sisi-sisi tepi, lalau beliau bersabda, “Beginilah gambaran manusia. Garis persegi empat ini adalah ajal yang pasti menimpanya, sedangkan garis yang keluar batas ini adalah angan-angannya, dan garis-garis kecil ini adalah sebagai cobaan yang siap menghadangnya. Jika ia terbebas dari cobaan yang satu, pasti akan tertimpa cobaan lainnya lagi, dan jika ia terbebas dari semua cobaan yang ada, ia pasti akan mengalami pikun.” (H.R. Al-Bukhari).

Metode Dakwah Rasulullah SAW
sumber: wikipedia.org
Metode Analogi

Dalam dakwahnya, tak jarang Rasulullah SAW, menggunakan metode analogi atau perbandingan dalam dakwahnya, terutama dalam masalah penerapan hukum. Misalnya, dalam hadis berikut.

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA. Ia berkata, “Aku pernah mendengan Nabi SAW, ditanya tentang (hukum) menjual kurma kering dicampur dengan kurma basah. Beliau SAW, kemudian bertanya kepada orang yang ada di sekeliling beliau. ‘Apakah kurma yang basah itu akan berkurang (timbangannya) apabila sudah kering?” Mereka menjawab, “Ya” Maka beliau pun akhirnya melarangnya.”(H.R. Abu Daud).

Metode Tasybih

Metode tasybih atau perumpamaan biasa Rasullah SAW, gunakan untuk menjelaskan hal yang sifatnya abstrak dan beliau ibaratkan dengan hal yang sifatnya konkret yang bisa ditemui oleh para sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini dipandang cukup memudahkan dan mempercepat pemahaman bagi mereka untuk mengetahui hal-hal yang sifatnya abstrak.

Rasulullah SAW, bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujah, aromanya harum dan rasanya lezat. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma, meski rasanya lezat, tetapi tidak memiliki aroma yang harum. Perumpamaan seorang pendosa yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah raihanah, meski aromanya harum, namun rasanya pahit. Adapun perumpamaan seorang pendosa yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hanzhalah, rasanya pahit dan aromanya tidak harum.” (H.R. Abu Daud).

Metode Dakwah Rasulullah SAW

Berdakwah Menggunakan Media Teks

Dakwah tidaklah selalu dilakukan dengan cara ceramah, kajian, dialog interaktif, dan sejenisnya. Akan tetapi, dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti melalui media teks. Berdakwah dengan media ini pernah dilakukan Rasulullah SAW, ketika baliau mengajak para penguasa negeri-negeri di sekitar Jazirah Arab, tentunya dengan menulis surat dan mengutus para sahabat untuk mengirimkan kepada para penguasan tersebut supaya mereka memeluk (agama) Islam.

Adapun pada zaman sekarang media dakwah dengan teks sangatlah banyak, seperti dengan membagikan brosur atau buletin, menempelkan majalah dinding, menulis buku, menulis artikel di Internet, mengirimkan pesan singkat melalui ponsel.

Metode Bercerita

Bercerita merupakan metode yang paling sering digunakan oleh para Dai. Hal tersebut karena metode ini dianggap akan lebih membekas dalam jiwa orang-orang yang mendengarkannya serta lebih menarik perhatian mereka. Bahkan, Allah SWT, telah megenalkan metode ini kepada Rasulullah SAW, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Hud ayat 120, yang artinya sebagai berikut.

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang denganya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Hud: 120).

Materi “Metode Dakwah Rasulullah SAW” bersumber dari:

Fitrah, Al-Qur’an Hadis, untuk MA dan yang sederajat, Kelas XII Semester I

Pembahasan mengenai Metode Dakwah Rasulullah SAW yang lain dapat ditelusuri di Google. Misalnya “ini

Demikianlah Metode Dakwah Rasulullah SAW yang dapat serba makalah sajikan. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih banyak dan mohon maaf.

Baca juga:

Kandungan Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125

Kandungan Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara’: 214-216

Kandungan Al-Qur’an Surah Al-Hijr: 94-96

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *