Pengertian Jaminan Fidusia

Diposting pada

serba-makalah dalam kesempatan kali ini akan menyajikan:

Pengertian Jaminan Fidusia

Istilah Fidusia berasal dari bahasa Belanda, yaitu Fiducie sedangkan dalam bahasa Inggris disebut

Fiduciary Transfer of Ownership, yang artinya kepercayaan. Di dalam berbagai literatur, Fidusia

lazim di sebut dengan Eigendom Overdract (FEO), yaitu penyerahan hak milik berdasarkan atas

kepercayaan. Di dalam pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor 42 tahun 1999 Tentang Jaminan

Fidusia kita jumpai pengertian Fidusia. Fidusia adalah:(HS, Salim, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2014, hlm. 55)

“Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa

benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik

benda itu.”
Pengalihan hak kepemilikan dimaksudkan pemindahan hak kepemilikan dan pemberi Fidusia

kepada penerima Fidusia atas dasar kepercayaan, dengan syarat bahwa benda yang menjadi

obyeknya tetap berada di tangan pemberi Fidusia.

disamping istilah fidusia,dikenal juga istilah Jaminan Fidusia. istilah Jaminan Fidusia ini

dikenal dalam Pasal 1 angka 2 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan

Fidusia, Pengertian Jaminan Fidusia adalah:(Ibid., hlm 56)

“Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan

benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan

sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak

Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi

pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima

fidusia terhadap kreditur lainnya”.

Dan penegertian di atas , dapat kita ketahui unsur-unsur Jaminan Fidusia itu, antara lain

yaitu:(Ibid., hlm 57)
a.    Adanya hak Jaminan,
b.    Adanya Obyek, yaitu benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak di bebani hak tanggungan,
c.    Benda menjadi obyek Jaminan tetap berada dalam penguasaan pemberi Fidusia,
d.    Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur.
Dengan demikian, dalam Fidusia telah terjadi penyerahhan dan pemindahan dalam kepemilikan atas

suatu benda yang di lakukan atas dasar kepercayaan (Fiduciair). Dengan adanya penyerahan hak

kepemilikan atas kebendaan Jaminan Fidusia, tidak berarti bahwa Kreditor penerima dan Jaminan

Fidusia akan betul-betul menjadi pemilik kebendaan yang di jaminkan dengan Fidusia tersebut.

Dalam kedudukan sebagai kreditur penerima Fidusia, maka dia mempunyai hak untuk menjual

kebendaan Fidusia yang dijaminkan kepadanya, atau seolah-olah dia menjadi atau sebagai pemilik

dari kebendaan Jaminan Fidusia dimaksud, dengan syarat debitur (pemberi Fidusia) melakukan

Wanprestasi. Dengan kata lain selama debitur pemberi Fidusia belum melunasi utangnya,

maka selama itu pula Kreditur penerima Fidusia mempunyai hak untuk menjual kebendaan

Fidusia yang dijaminkan kepadanya. Artinya, bila utang debitur pemberi Fidusia lunas, maka

kebendaan Fidusia yang di jaminkan kepadanya tersebut akan diserahkan kembali kepadanya

oleh Kreditur penerima Fidusia(Rachmadi Usman, Hukum Kebendaan, Jakarta: Sinar Grafika , 2011, hlm.284)

demikianlah uraian singkat tentang Pengertian Jaminan Fidusia, semoga bermanfaat sekian dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *